Hari ini aku mendengar dari seseorang bahwa:
“Manusia itu tidak dirancang untuk menerima kekalahan atau
kondisi terjatuh”
Tidak. Manusia itu pada dasarnya dirancang untuk menerima
semua rasa, dirancang untuk menerima semua kondisi, dirancang untuk merasakan
kedua sisi, dirancang untuk berfikir dua arah. Semua hal dalam diri manusia
dirancang secara seimbang, tidak berat sebelah, tidak mendominasi keadaan “up
side” atau “down side” semuanya diharuskan merasakan keduanya dengan seimbang.
“up side” adalah kondisi dimana manusia berada disisi teratas, maksudnya adalah
kondisi dimana manusia merasa bahagia, senang, menang, melayang, tertawa, dll.
Sedangkan “down side” adalah kondisi dimana manusia berada disisi terbawah,
maksudnya adalah kondisi dimana manusia merasa sedih, kecewa, terluka,
kehilangan, kekalahan, dll.
Hanya saja tiap kepribadian memiliki caranya sendiri untuk
menanggapi hal-hal tersebut. Setiap manusia itu sudah diprogram untuk menerima
bagaimana rasanya kekalahan, jatuh, atau hal-hal lain yang berhubungan dengan “down
side”, tetapi setiap manusia tidak diprogram untuk menanggapinya atau
menerimanya dalam satu pemikiran yang sama karena pada dasarnya meskipun
luarnya manusia semua sama (ya, berwujud manusia) tapi kepribadiannya tidak
seorangpun manusia yang ada di dunia ini memiliki pribadi yang sama. Sehingga
manusia memiliki cara-cara tersendiri dalam menanggapi kondisi “down side” nya.
Ada yang menanggapinya secara otodidak, maksudnya mencari
celah sendiri dan belajar sendiri bagaimana menerima keadaan tersebut. Ada yang
butuh teknisi, maksudnya membutuhkan bantuan seseorang untuk menanggung beban
itu bersama dirinya atau menjadi pegangan untuknya. Ada yang butuh buku
panduan, maksudnya pemberi informasi atau masukan-masukan bagaimana cara yang
tepat untuk menanggapi posisi tersebut. Kebanyakan orang akan memilih buku
panduan dan teknisi karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang
tetap membutuhkan orang lain dalam setiap kondisinya, dan sisanya yang
benar-benar merasa kuat dan merasa mampu berdiri sendiri menerima nya akanmemilih
cara otodidak.
Menanggapi “down side” dengan cara otodidak mengajarkan
manusia untuk bisa mandiri, berfikir dewasa dan bertanggung jawab, tidak
membebankan orang lain sehingga secara otomatis dia menempa dirinya sendiri
untuk lebih kuat tetapi jika salah langkah dalam berfikir maka bisa
mengakibatkan jatuh dalam “down side”
akan semakin dalam. Menggunakan teknisi mengajarkan manusia untuk
menjadi manja, membebankan orang lain, takut menerima kenyataan dan menjadi
lemah karena terus menerus bertumpu pada orang lain berharap orang lain dapat
menyelesaikannya untuk dirinya tapi paling banyak digunakan oleh orang-orang
yang tidak percaya diri dan terlalu takut melangkah sendiri. Menggunakan buku
panduan mungkin cara yang cukup bijak karena pemikiran manusia untuk menanggapi
“down side” tidak hanya dari diri sendiri tapi juga dari orang lain, mungkin
pada teorinya orang lain akan mendominasi ditambah dengan pemikiran dasar kita
tetapi pada prakteknya kita yang mendominasi dan pemikiran-pemikiran lain
tersebut sebagai pendukung agar langkah yang diambil menjadi lebih terarah dan
tidak sembarangan.
Tanpa kita ketahui ketiga cara tersebut memiliki kaitan
tersendiri. Seseorang yang memilih cara otodidak mungkin pernah tidak percaya
terhadap teknisi yang berjanji membantunya tapi akhirnya meninggalkannya dalam
kondisi yang sama atau karena buku panduan nya tidak memberikan informasi yang
dibutuhkan dan diharapkan nya. Seseorang yang memilih bantuan teknisi mungkin
pernah memilih cara otodidak tetapi akhirnya makin jatuh dalam “down side” nya
atau karena informasi dari buku panduan tidak bisa membuatnya mengerti.
Seseorang yang memilih buku panduan mungkin pernah ingin mencoba cara otodidak
tapi terlalu takut salah langkah atau tidak ingin memilih teknisi karena takut
akan membebankan orang lain.
Cara yang dipilih seseorang untuk menanggapi atau menerima
bahkan mungkin menyelesaikan “down side” nya adalah cara terbaik untuk dirinya
sendiri dan mungkin untuk lingkungan sekitarnya juga. Meskipun begitu bagaimana
pun caranya manusia tidak boleh kalah dari kondisi “down side”, karena Tuhan
tidak menciptakan manusia sebagai hambanya yang lemah, gagal, dan pantang
menyerah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Kenalan dulu, baru komentar!