Laman

Kamis, 26 Juni 2014

Down Side



Hari ini aku mendengar dari seseorang bahwa:

“Manusia itu tidak dirancang untuk menerima kekalahan atau kondisi terjatuh”

Tidak. Manusia itu pada dasarnya dirancang untuk menerima semua rasa, dirancang untuk menerima semua kondisi, dirancang untuk merasakan kedua sisi, dirancang untuk berfikir dua arah. Semua hal dalam diri manusia dirancang secara seimbang, tidak berat sebelah, tidak mendominasi keadaan “up side” atau “down side” semuanya diharuskan merasakan keduanya dengan seimbang. “up side” adalah kondisi dimana manusia berada disisi teratas, maksudnya adalah kondisi dimana manusia merasa bahagia, senang, menang, melayang, tertawa, dll. Sedangkan “down side” adalah kondisi dimana manusia berada disisi terbawah, maksudnya adalah kondisi dimana manusia merasa sedih, kecewa, terluka, kehilangan, kekalahan, dll.

Hanya saja tiap kepribadian memiliki caranya sendiri untuk menanggapi hal-hal tersebut. Setiap manusia itu sudah diprogram untuk menerima bagaimana rasanya kekalahan, jatuh, atau hal-hal lain yang berhubungan dengan “down side”, tetapi setiap manusia tidak diprogram untuk menanggapinya atau menerimanya dalam satu pemikiran yang sama karena pada dasarnya meskipun luarnya manusia semua sama (ya, berwujud manusia) tapi kepribadiannya tidak seorangpun manusia yang ada di dunia ini memiliki pribadi yang sama. Sehingga manusia memiliki cara-cara tersendiri dalam menanggapi kondisi “down side” nya.

Ada yang menanggapinya secara otodidak, maksudnya mencari celah sendiri dan belajar sendiri bagaimana menerima keadaan tersebut. Ada yang butuh teknisi, maksudnya membutuhkan bantuan seseorang untuk menanggung beban itu bersama dirinya atau menjadi pegangan untuknya. Ada yang butuh buku panduan, maksudnya pemberi informasi atau masukan-masukan bagaimana cara yang tepat untuk menanggapi posisi tersebut. Kebanyakan orang akan memilih buku panduan dan teknisi karena pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial yang tetap membutuhkan orang lain dalam setiap kondisinya, dan sisanya yang benar-benar merasa kuat dan merasa mampu berdiri sendiri menerima nya akanmemilih cara otodidak.

Menanggapi “down side” dengan cara otodidak mengajarkan manusia untuk bisa mandiri, berfikir dewasa dan bertanggung jawab, tidak membebankan orang lain sehingga secara otomatis dia menempa dirinya sendiri untuk lebih kuat tetapi jika salah langkah dalam berfikir maka bisa mengakibatkan jatuh dalam “down side”  akan semakin dalam. Menggunakan teknisi mengajarkan manusia untuk menjadi manja, membebankan orang lain, takut menerima kenyataan dan menjadi lemah karena terus menerus bertumpu pada orang lain berharap orang lain dapat menyelesaikannya untuk dirinya tapi paling banyak digunakan oleh orang-orang yang tidak percaya diri dan terlalu takut melangkah sendiri. Menggunakan buku panduan mungkin cara yang cukup bijak karena pemikiran manusia untuk menanggapi “down side” tidak hanya dari diri sendiri tapi juga dari orang lain, mungkin pada teorinya orang lain akan mendominasi ditambah dengan pemikiran dasar kita tetapi pada prakteknya kita yang mendominasi dan pemikiran-pemikiran lain tersebut sebagai pendukung agar langkah yang diambil menjadi lebih terarah dan tidak sembarangan.

Tanpa kita ketahui ketiga cara tersebut memiliki kaitan tersendiri. Seseorang yang memilih cara otodidak mungkin pernah tidak percaya terhadap teknisi yang berjanji membantunya tapi akhirnya meninggalkannya dalam kondisi yang sama atau karena buku panduan nya tidak memberikan informasi yang dibutuhkan dan diharapkan nya. Seseorang yang memilih bantuan teknisi mungkin pernah memilih cara otodidak tetapi akhirnya makin jatuh dalam “down side” nya atau karena informasi dari buku panduan tidak bisa membuatnya mengerti. Seseorang yang memilih buku panduan mungkin pernah ingin mencoba cara otodidak tapi terlalu takut salah langkah atau tidak ingin memilih teknisi karena takut akan membebankan orang lain.

Cara yang dipilih seseorang untuk menanggapi atau menerima bahkan mungkin menyelesaikan “down side” nya adalah cara terbaik untuk dirinya sendiri dan mungkin untuk lingkungan sekitarnya juga. Meskipun begitu bagaimana pun caranya manusia tidak boleh kalah dari kondisi “down side”, karena Tuhan tidak menciptakan manusia sebagai hambanya yang lemah, gagal, dan pantang menyerah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Kenalan dulu, baru komentar!